Trump Janjikan US$5.000 jika Republik Menang Kongres, Pelaksanaannya Tetap Bergantung pada Kongres

 


Dallas, 9 September 2026 — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menjanjikan pembayaran sebesar US$5.000 kepada setiap warga negara AS dewasa apabila Partai Republik mempertahankan kendali atas Dewan Perwakilan Rakyat dan Senat dalam pemilu sela 3 November 2026.

Janji itu disampaikan Trump dalam konvensi Partai Republik di Dallas, Texas, pada 9 September. Sehari kemudian, Gedung Putih menerbitkan pernyataan resmi yang menyebut program tersebut sebagai “Trump Dividend” dan menegaskan bahwa pembayaran dikaitkan dengan kemenangan Partai Republik di kedua kamar Kongres. Trump juga menyatakan uang tersebut harus dibelanjakan di Amerika Serikat.

Pengumuman itu muncul ketika Partai Republik menghadapi pemilu sela dalam kondisi politik yang berat. Jajak pendapat Reuters/Ipsos pada akhir Agustus mencatat tingkat persetujuan terhadap kinerja Trump sekitar 33 persen, sementara 47 persen pemilih terdaftar menyebut biaya hidup sebagai faktor terpenting dalam menentukan pilihan mereka pada pemilu sela.

Janji US$5.000 Digantungkan pada Kemenangan DPR dan Senat

Secara faktual, apa yang diumumkan Trump saat ini masih berupa janji kebijakan politik, bukan pembayaran yang telah disahkan menjadi hak hukum bagi warga.

Gedung Putih menyatakan pembayaran akan diberikan kepada warga negara AS dewasa jika Partai Republik menguasai DPR dan Senat. Namun, pengumuman awal tidak memuat mekanisme legislatif yang lengkap, jadwal pembayaran, ataupun rincian terperinci mengenai sumber anggarannya.

Reuters memperkirakan cakupan pembayaran tersebut dapat menelan biaya lebih dari US$1 triliun. Sejumlah anggota Partai Republik sendiri mempertanyakan implikasi kebijakan itu terhadap inflasi, utang pemerintah dan biaya pinjaman.

Konteks politiknya juga tidak dapat dilepaskan dari perang Iran yang masih berjalan. Reuters melaporkan pada 11 September bahwa Trump menyatakan tidak menyesali keputusannya dalam perang tersebut. Jadi, menyebut janji US$5.000 itu muncul “setelah perang Iran” tidak tepat; peristiwanya berlangsung di tengah konflik yang belum berakhir.

Reuters/Ipsos sebelumnya juga menemukan hanya sekitar seperempat warga AS yang menilai perang dengan Iran sepadan dengan biaya dan manfaatnya. Pada akhir Agustus, ketidakpuasan terhadap biaya hidup dan perang Iran menjadi bagian dari tekanan politik yang dihadapi Trump dan Partai Republik menjelang pemilu sela.

Lebih dari US$1 Triliun Tidak Bisa Keluar Hanya karena Janji Presiden

Persoalan hukum paling jelas bukan apakah Presiden boleh menyampaikan janji kampanye, melainkan bagaimana uang negara itu dapat benar-benar dibayarkan.

Article I, Section 9, Clause 7 Konstitusi Amerika Serikat menetapkan bahwa uang tidak dapat dikeluarkan dari Treasury kecuali berdasarkan apropriasi yang dibuat menurut hukum. Prinsip ini menempatkan Kongres pada posisi penting dalam pengeluaran dana federal.

U.S. Government Accountability Office juga menjelaskan melalui Antideficiency Act bahwa lembaga federal pada prinsipnya tidak boleh membuat kewajiban atau mengeluarkan uang melebihi maupun mendahului anggaran yang telah diberikan oleh hukum.

Dengan demikian, janji Presiden sebesar apa pun tidak otomatis membuat Treasury mempunyai kewenangan membayar warga. Bila tidak terdapat otorisasi dan apropriasi yang memadai, program pembayaran tidak dapat dijalankan hanya berdasarkan pidato politik.

Status yang tepat saat ini adalah: Trump Dividend merupakan proposal atau janji politik yang diumumkan Presiden dan didukung secara resmi oleh Gedung Putih, tetapi belum dapat diperlakukan sebagai hak pembayaran yang sudah berlaku.

Tidak ada perkara pidana atau status tersangka, terdakwa maupun terpidana yang menjadi objek berita ini.

Janji Politik dan Suara Pemilih Harus Dipisahkan secara Hati-Hati

Ada lapisan hukum lain yang patut dicermati tanpa buru-buru membuat vonis.

18 U.S.C. §597 melarang seseorang membuat atau menawarkan suatu pengeluaran kepada orang lain sebagai imbalan agar orang tersebut memberikan, tidak memberikan, atau menentukan suaranya terhadap kandidat.

Namun, keberadaan aturan tersebut tidak otomatis berarti janji Trump telah terbukti sebagai pelanggaran pemilu atau pembelian suara. Penerapan ketentuan pidana memerlukan pemeriksaan unsur hukum, fakta, maksud, bentuk pengeluaran dan hubungan antara pembayaran dengan tindakan memilih.

Sejauh sumber yang saya verifikasi, belum terdapat putusan pengadilan atau penetapan resmi yang menyatakan pengumuman “Trump Dividend” itu melanggar 18 U.S.C. §597.

Karena itu, istilah seperti “suap pemilih” atau “membeli suara” tidak boleh dinyatakan sebagai fakta hukum pada tahap ini.

Saya, Muhammad Naufal Taftazani, S.H., juga selaku Ketua Forum Baitulmaal Keluarga (FORMARGA), melihat masalah terpenting justru terletak pada transparansi antara janji politik dan uang publik.

US$5.000 terdengar sederhana ketika disampaikan dari podium. Ketika dikalikan dengan populasi penerima, nilainya berubah menjadi belanja negara lebih dari US$1 triliun. Pada titik itu masyarakat berhak bertanya: dari mana uang berasal, siapa yang berwenang menyetujuinya, bagaimana pengaruhnya terhadap inflasi dan utang, siapa yang memenuhi syarat, serta bagaimana program tersebut dituangkan ke dalam hukum.

Pemilu tidak seharusnya mengubah mekanisme anggaran menjadi sekadar kalimat kampanye. Sebaliknya, hukum anggaran juga tidak boleh dipakai untuk menghakimi janji politik sebelum unsur pelanggarannya benar-benar terbukti.

Literasi publik justru membutuhkan keduanya: kritik yang tajam terhadap janji fiskal dan disiplin untuk tidak membuat tuduhan hukum tanpa dasar.

Referensi

  1. The White HouseTrump Dividend: America Is Winning — and Americans Should Win With It — 10 September 2026. Sumber resmi Gedung Putih
  2. ReutersTrump offers $5,000 to every American if Republicans win midterm elections — 9 September 2026. Reuters, 9 September 2026
  3. ReutersTrump's $5,000 dividend plan draws some Republican skepticism — 10 September 2026. Reuters, 10 September 2026
  4. ReutersTrump says he does not regret Iran war despite impact it may have on midterm elections — 11 September 2026. Reuters, 11 September 2026
  5. Ipsos/ReutersCost of living remains top of mind for voters heading into 2026 midterms — 31 Agustus 2026. Ipsos/Reuters polling
  6. Constitution Annotated, Congress.gov — Article I, Section 9, Clause 7, Appropriations Clause. Konstitusi AS—Appropriations Clause
  7. U.S. Government Accountability OfficeAntideficiency Act. GAO—Antideficiency Act
  8. U.S. House Office of the Law Revision Counsel — 18 U.S.C. §597, Expenditures to influence voting. 18 U.S.C. §597

Muhammad Naufal Taftazani, S.H. | Naufal Lawyer | Pengacara Banyuwangi | FORMARGA

Dukung kami terus menyuarakan keadilan dan advokasi hukum untuk rakyat.

Klik dukungan:

Komentar