ALHAMDULILLAH WNI SELAMAT PULANG, TAPI PERNYATAAN MENLU SUGIONO SANGAT MENGECEWAKAN!
ALHAMDULILLAH WNI SELAMAT PULANG, TAPI PERNYATAAN MENLU SUGIONO SANGAT MENGECEWAKAN!
Alhamdulillah, seluruh 9 WNI peserta misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0 telah dibebaskan dan sedang dalam perjalanan pulang ke tanah air melalui Istanbul, Turki. Kami bersyukur atas keselamatan para relawan dan jurnalis yang telah menunjukkan keberanian luar biasa membawa misi kemanusiaan bagi rakyat Gaza yang tertindas. Kerja keras berbagai pihak, termasuk dukungan Turki, patut diapresiasi. Namun, syukur ini tidak boleh menutupi fakta kejahatan kemanusiaan yang terjadi dan kelemahan sikap pemerintah Indonesia.
Penyanderaan dan Penyiksaan Tidak Manusiawi oleh Israel
Para aktivis ditangkap di perairan internasional, jauh di luar wilayah Israel. Mereka dipaksa berlutut, diikat, dipukul, ditendang, bahkan disetrum. Video yang beredar memperlihatkan perlakuan memalukan dan tidak manusiawi yang jelas melanggar hukum humaniter internasional, Konvensi Jenewa, serta UNCLOS.
Ini bukan sekadar “pencegatan”. Ini penculikan ilegal di laut lepas disertai penyiksaan terhadap warga sipil yang membawa bantuan kemanusiaan. Israel harus dimintai pertanggungjawaban penuh di Mahkamah Pidana Internasional (ICC).
Kritik Keras terhadap Pernyataan Menlu Sugiono
Kami sangat kecewa dan mengkritik keras pernyataan Menteri Luar Negeri Sugiono. Pada 20 Mei 2026 di Gedung DPR, beliau menyatakan:
“Saat ini bukan kasus penculikan atau penyanderaan. Ini kasus kapal bantuan kemanusiaan yang di-intercept oleh tentara Israel.”
Pernyataan ini sangat ngawur, minim empati, defensif, dan berbahaya. Sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia yang selama ini vokal mendukung Palestina, Indonesia seharusnya mengambil sikap tegas. Bukan malah menggunakan bahasa yang cenderung melegitimasi tindakan agresi Israel di perairan internasional.
Mengapa Menlu enggan menyebut fakta penculikan ilegal? Mengapa tidak langsung mengecam pelanggaran hukum laut internasional dan kekerasan terhadap relawan kemanusiaan? Sikap ini melemahkan posisi Indonesia dan mengecewakan rakyat yang mendukung perjuangan Palestina.
Di Mana Prabowo yang Katanya Tegas?
Publik masih ingat bagaimana Prabowo Subianto sering digambarkan sebagai pemimpin tegas, berani, bahkan sampai “gebrak meja” dalam berbagai isu. Namun, dalam kasus penyanderaan WNI di perairan Gaza ini, tidak ada suara tegas sedikit pun dari Presiden Prabowo.
Tidak ada pernyataan keras, tidak ada panggilan darurat, tidak ada ancaman diplomatik, apalagi tindakan konkret. Di saat Korea Selatan dan Malaysia langsung mengeluarkan kecaman keras, Indonesia justru terkesan lambat dan hati-hati berlebihan. Di mana ketegasan yang selama ini dijanjikan?
Perbandingan dengan Korea Selatan dan Malaysia yang Lebih Tegas
Korea Selatan: Presiden Lee Jae-myung langsung bereaksi keras. Beliau memerintahkan timnya untuk mempertimbangkan surat perintah penangkapan terhadap Benjamin Netanyahu dan menegaskan bahwa tindakan Israel di perairan internasional tidak dapat dibenarkan.
Malaysia: Perdana Menteri Anwar Ibrahim langsung menyebut Israel sebagai "barbaric Zionist regime". Beliau mengecam pelanggaran HAM berat dan mendesak pembebasan segera serta pertanggungjawaban Israel.
Indonesia? Malah sibuk menjelaskan “bukan penculikan”. Sungguh kontras yang memalukan.
Kesimpulan dan Tuntutan
Syukur WNI pulang adalah rahmat. Namun, kita tidak boleh diam. Pemerintah Indonesia harus segera:
- Menuntut pertanggungjawaban Israel secara resmi di forum internasional.
- Memberikan rehabilitasi fisik dan psikologis bagi para relawan yang trauma.
- Merevisi pendekatan diplomasi yang terlalu lembek dan lebih tegas membela kemanusiaan serta Palestina.
- Presiden Prabowo harus turun langsung memberikan pernyataan tegas, bukan hanya diam atau delegasi ke Menlu.
Keadilan tidak akan datang dengan sikap diplomatis bertele-tele. Harus ada suara lantang dan tindakan nyata!
Kita tetap berdiri bersama Palestina. Misi kemanusiaan bukan kejahatan. Penculikan di laut lepas adalah kejahatan!
Referensi:
- Pernyataan Menlu Sugiono, 20-21 Mei 2026 (Kompas, Antara, CNN Indonesia)
- Pernyataan Presiden Lee Jae-myung (The Korea Herald, 20 Mei 2026)
- Pernyataan PM Anwar Ibrahim (Free Malaysia Today, Antara, 18-21 Mei 2026)
- Laporan aktivis Global Sumud Flotilla, 21-22 Mei 2026
Komentar
Posting Komentar