Kericuhan Tarkam Piala Ketua PSSI Banyuwangi 2026: Pengamanan Gagal, Lebih Baik Dihentikan!

Kericuhan Tarkam Piala Ketua PSSI Banyuwangi 2026: Pengamanan Gagal, Lebih Baik Dihentikan!



Banyuwangi, 29 Mei 2026 – Kembali terjadi kerusuhan dalam turnamen sepak bola Piala Ketua PSSI Banyuwangi 2026. Kali ini di babak semifinal yang mempertemukan Persegam Gambiran melawan Desy Banteng FC (atau PMJ Krikilan) di Lapangan RTH Maron, Genteng Kulon, Kecamatan Genteng, Kamis (28/5/2026).

Insiden pecah bahkan sebelum pertandingan dimulai. Suporter kedua kubu saling ejek, melempar batu, hingga terlibat adu fisik. Beberapa penonton dilaporkan mengalami luka dan harus ditandu tim medis. Suasana yang seharusnya penuh semangat olahraga berubah menjadi chaos yang membahayakan keselamatan masyarakat.

Ini bukan kejadian pertama. Sepanjang turnamen yang memperebutkan hadiah total Rp100 juta ini, kericuhan berulang kali terjadi. Mulai dari babak penyisihan hingga semifinal, bentrokan suporter, pagar jebol, hingga kerusuhan yang meluas ke luar lapangan menjadi pemandangan yang kerap terulang.

Pertanyaan Serius soal Pengamanan

Sebagai pengacara dan Ketua GERAM (Gerakan Rakyat anti Mafia Hukum) serta SORBAN, saya harus mempertanyakan keras: Di mana pengamanan yang sebenarnya?

Panitia dan PSSI Banyuwangi sejak awal mengklaim telah mempersiapkan pengamanan matang, termasuk melibatkan kepolisian. Namun kenyataannya, kericuhan tetap terjadi berulang kali. Apakah aparat keamanan hanya hadir secara formalitas? Apakah tidak ada skenario kontingensi yang jelas untuk menghadapi tensi tinggi antar-suporter fanatik?

Jika panitia dan pihak keamanan tidak mampu mengamankan pertandingan, maka lebih baik pertandingan dihentikan sementara atau bahkan dibatalkan. Keselamatan penonton, pemain, dan suporter jauh lebih penting daripada prestise turnamen atau potensi keuntungan materi.

Kita tidak boleh membiarkan sepak bola kampung (tarkam) yang seharusnya menjadi sarana silaturahmi dan hiburan rakyat justru menjadi pemicu konflik horizontal. Biaya pengobatan korban, trauma masyarakat, dan citra buruk Banyuwangi jauh lebih mahal daripada hadiah Rp100 juta tersebut.

Rekomendasi Konkrit

  1. Evaluasi Total penyelenggaraan turnamen oleh PSSI Banyuwangi dan Pemerintah Kabupaten.
  2. Penguatan pengamanan yang sesungguhnya, bukan hanya seremonial (termasuk screening suporter dan pemisahan tribun yang tegas).
  3. Sanksi tegas bagi oknum suporter yang provokatif dan panitia yang lalai.
  4. Jika pola kericuhan terus berlanjut, hentikan turnamen demi menjaga ketertiban umum.

Sepak bola harus menyatukan, bukan memecah belah. Mari kita jaga Banyuwangi tetap damai.

Baca selengkapnya di www.NaufalLawyer.com
Muhammad Naufal Taftazani, S.H. – #NaufalLawyer
GERAM (Gerakan Rakyat anti Mafia Hukum) & SORBAN, Pengacara Banyuwangi.

Komentar