Brand Kopi Makmoer yang Sempat Mati Suri Siap Bangkit melalui Forum Baitulmaal Keluarga
Pertemuan Forum Baitulmaal Keluarga atau FORMARGA yang diselenggarakan di Kedai Makmoer, Jl. Mayor Supono 6c Banyuwangi, pada Rabu, 01 Juli 2026, menghasilkan pembahasan menarik mengenai potensi kopi lokal, khususnya kopi excelsa dari wilayah Desa Sumberarum, Kecamatan Songgon, Banyuwangi.
Dalam pertemuan tersebut, saudara Atmojo menyampaikan adanya persoalan yang diduga cukup serius di tingkat hulu, yaitu masih rendahnya harga kopi di beberapa petani karena masalah penyerapan hasil panen yang belum dikelola secara baik. Disebutkan pula terdapat ratusan pohon kopi excelsa yang memiliki potensi ekonomi, namun belum sepenuhnya terhubung dengan sistem pasar, pengolahan, branding, dan distribusi yang kuat.
Saya, Muhammad Naufal Taftazani, S.H., selaku Ketua Forum Baitulmaal Keluarga atau FORMARGA, memandang bahwa persoalan seperti ini tidak boleh hanya berhenti menjadi obrolan di meja kopi. Jika setiap pertemuan FORMARGA selalu diiringi dengan kegiatan ngopi, maka sudah seharusnya tradisi ngopi itu dinaikkan kelasnya menjadi gerakan ekonomi keluarga, gerakan pemberdayaan, dan gerakan keberpihakan pada produk lokal.
Dari pembahasan tersebut, FORMARGA kemudian mengusulkan sekaligus memutuskan untuk menghidupkan kembali brand Kopi Makmoer, sebuah brand kopi milik saudara Leo Algifari yang sebelumnya sempat mati suri karena keterbatasan modal. Keputusan tersebut tidak berhenti pada wacana. Telah dilakukan penyetoran modal awal melalui Baitulmaal An Nashr bersama Matahari Terbit Foundation yang tergabung dalam Forum Baitulmaal Keluarga.
Kopi Excelsa Sumberarum dan Problem Penyerapan
Kopi excelsa bukan komoditas sembarangan. Dalam sejumlah referensi, excelsa dikenal sebagai kopi yang masih beririsan dengan kelompok Liberika atau dewevrei, dengan karakter yang khas dan tidak sepopuler robusta maupun arabika. Justru karena belum terlalu umum, excelsa memiliki ruang diferensiasi yang menarik apabila dikelola dengan benar, mulai dari pascapanen, roasting, kemasan, narasi produk, hingga distribusi.
Namun potensi tidak akan menjadi nilai ekonomi jika tidak ada ekosistem penyerapan. Di titik inilah kritik harus disampaikan secara tegas. Diduga, masalah kopi lokal bukan selalu karena kualitas petani rendah, tetapi karena rantai nilai tidak dibangun secara adil dan serius. Petani sering berada di posisi paling lemah: menanam, merawat, memanen, tetapi tidak selalu menikmati nilai tambah dari branding dan penjualan akhir.
Maka, bila terdapat ratusan pohon excelsa di Sumberarum, Songgon, yang belum terserap optimal, persoalannya bukan hanya urusan dagang biasa. Ini adalah persoalan tata kelola ekonomi lokal. Harus ada pihak yang berani masuk, menyerap, mengolah, mengemas, menjual, dan membangun cerita besar bahwa kopi lokal Banyuwangi tidak boleh terus menjadi komoditas mentah yang murah.
Kopi Makmoer: Brand Lokal yang Harus Dibangkitkan
Kopi Makmoer memiliki modal sosial yang penting. Brand ini lahir dari pengalaman saudara Leo Algifari, yang selama ini dikenal melalui Kedai Makmoer. Saudara Leo juga memiliki pengalaman di dunia kuliner, pernah mengelola Dakon Resto, serta pernah bekerja di beberapa hotel di Banyuwangi. Artinya, Kopi Makmoer tidak lahir dari ruang kosong, tetapi dari pengalaman pelayanan, rasa, pelanggan, dan dapur usaha yang nyata.
Kopi Makmoer menyajikan kopi berkualitas dengan harga terjangkau. Di tengah banyaknya produk kopi yang bermain pada citra mahal, Kopi Makmoer justru dapat mengambil posisi yang lebih membumi: kopi enak, harga wajar, dekat dengan masyarakat, dan memiliki keberpihakan pada ekonomi lokal.
Dalam waktu dekat, Kopi Makmoer direncanakan kembali tersedia di Kedai Makmoer dan beberapa tempat lain. Sistem reseller juga akan dibuka agar lebih banyak orang dapat ikut bergerak, bukan hanya sebagai pembeli, tetapi juga sebagai bagian dari jaringan distribusi ekonomi keluarga.
Saya memandang sistem reseller ini penting, sepanjang dikelola transparan, tertib, dan tidak sekadar mengejar penjualan jangka pendek. Reseller harus menjadi pintu perluasan pasar, bukan sekadar formalitas. Jika ingin serius, Kopi Makmoer harus menyiapkan standar produk, harga reseller, margin yang sehat, desain kemasan, narasi brand, dan sistem pencatatan yang rapi.
Baitulmaal Produktif: Dari Ngopi Menjadi Gerakan Ekonomi
Forum Baitulmaal Keluarga tidak boleh hanya bicara sedekah konsumtif. Bantuan sosial tetap penting, tetapi ekonomi umat dan ekonomi keluarga tidak akan tumbuh jika seluruh gerakan berhenti pada bagi-bagi bantuan. Harus ada baitulmaal produktif, yaitu dana sosial dan kekuatan kolektif yang digerakkan untuk menghidupkan usaha, menyerap produk, membuka jaringan reseller, dan menciptakan perputaran ekonomi.
Baitulmaal An Nashr bersama Matahari Terbit Foundation yang tergabung dalam FORMARGA mengambil langkah awal dengan ikut menghidupkan Kopi Makmoer. Ini adalah contoh kecil, tetapi penting. Dari meja ngopi, muncul keputusan. Dari keputusan, muncul modal awal. Dari modal awal, harus lahir produk. Dari produk, harus lahir pasar. Dari pasar, harus lahir keberlanjutan.
Sebagai advokat dan aktivis, saya melihat bahwa gerakan ekonomi seperti ini harus dijaga dari dua penyakit: pertama, romantisme tanpa manajemen; kedua, semangat sosial tanpa pertanggungjawaban. Kita boleh bicara pemberdayaan, tetapi tetap harus ada pembukuan. Kita boleh bicara solidaritas, tetapi tetap harus ada standar mutu. Kita boleh bicara membantu petani, tetapi tetap harus ada mekanisme harga yang masuk akal, transparan, dan tidak merugikan pihak mana pun.
Kopi Makmoer yang sempat mati suri kini siap dibangkitkan. Bukan sekadar untuk menjual kopi, tetapi untuk membuktikan bahwa forum kecil, kedai kecil, dan modal kecil dapat menjadi awal gerakan ekonomi yang lebih besar apabila dikelola dengan niat baik, keberanian, dan disiplin.
Jika gerakan ini berhasil, maka FORMARGA tidak hanya dikenal sebagai forum pertemuan dan diskusi, tetapi juga sebagai ruang lahirnya aksi ekonomi konkret: menyerap potensi lokal, menguatkan brand UMKM, membuka reseller, dan mendorong kemandirian keluarga.
Komentar
Posting Komentar