Duka Iran, Duka Kemanusiaan: Saat Jutaan Orang Mengantar Kepergian Seorang Pemimpin
Tempat: Tehran, Iran, khususnya kawasan Imam Khomeini Grand Mosalla.
Waktu: Jumat–Sabtu, 3–4 Juli 2026, dalam rangkaian pemakaman dan masa berkabung publik yang berlangsung beberapa hari.
Gelombang besar masyarakat Iran berkumpul di Tehran untuk memberikan penghormatan terakhir kepada mendiang Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran yang dilaporkan tewas dalam perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Rangkaian pemakaman ini tidak hanya menjadi prosesi kenegaraan, tetapi juga berubah menjadi peristiwa emosional, religius, politik, dan kemanusiaan yang menarik perhatian dunia.
Di tengah padatnya massa, tangis, doa, simbol duka, serta ekspresi kemarahan publik, dunia kembali diingatkan bahwa perang tidak pernah berhenti pada statistik. Di balik setiap serangan, setiap ledakan, setiap keputusan militer, selalu ada manusia yang kehilangan keluarga, pemimpin, rasa aman, dan masa depan.
Sebagai Muhammad Naufal Taftazani, S.H., advokat dan aktivis, serta Ketua Solidaritas Rakyat untuk Bangsa dan Negara (SORBAN), saya menyampaikan simpati atas duka yang sedang dirasakan rakyat Iran. Simpati ini bukan berarti membenarkan seluruh kebijakan politik suatu negara, bukan pula berarti menutup mata atas kompleksitas geopolitik Timur Tengah. Namun, dalam ukuran kemanusiaan, kematian akibat perang tetap harus ditempatkan sebagai tragedi.
1. Duka Rakyat Tidak Boleh Direndahkan
Kerumunan besar yang hadir di Tehran menunjukkan bahwa bagi sebagian besar rakyat Iran, kepergian pemimpin mereka bukan sekadar peristiwa politik. Ia menjadi simbol kehilangan, luka kolektif, dan kehormatan nasional.
Siapa pun boleh berbeda pandangan terhadap Iran, terhadap sistem politiknya, atau terhadap posisi geopolitiknya. Namun, merendahkan duka rakyat adalah sikap yang tidak beradab. Bangsa mana pun berhak berkabung tanpa dijadikan bahan ejekan, propaganda murahan, atau pembenaran atas kekerasan lanjutan.
2. Hukum Internasional Tidak Boleh Kalah oleh Logika Rudal
Dunia modern seharusnya berdiri di atas prinsip hukum internasional, kedaulatan negara, penyelesaian sengketa secara damai, serta perlindungan warga sipil. Jika pembunuhan tokoh politik atau pemimpin negara melalui serangan militer dianggap biasa, maka dunia sedang berjalan mundur menuju hukum rimba.
Dalam pandangan saya, setiap dugaan pelanggaran hukum internasional, serangan lintas negara, maupun tindakan yang berpotensi memperluas perang harus diuji secara serius, transparan, dan bertanggung jawab. Tidak boleh ada negara yang merasa kebal hanya karena memiliki kekuatan militer, aliansi besar, atau pengaruh politik global.
3. Simpati Kemanusiaan Harus Mengalahkan Nafsu Balas Dendam
Duka yang besar sering kali melahirkan kemarahan. Namun, dunia membutuhkan keberanian moral untuk menahan spiral balas dendam. Timur Tengah sudah terlalu lama menjadi panggung luka, intervensi, sanksi, konflik sektarian, dan perang proksi.
Saya percaya, simpati terhadap rakyat Iran harus dibaca sebagai seruan agar dunia kembali menempatkan manusia di atas kepentingan geopolitik. Keadilan harus diperjuangkan, tetapi keadilan tidak boleh berubah menjadi pembalasan tanpa batas.
Dari Banyuwangi, saya menyampaikan belasungkawa dan simpati kemanusiaan kepada rakyat Iran yang sedang berkabung. Semoga peristiwa ini menjadi pengingat bagi dunia bahwa perdamaian tidak lahir dari arogansi senjata, melainkan dari keberanian untuk menahan diri, menghormati hukum, dan menjaga martabat manusia.
Referensi: AP News, Reuters, The Guardian, Al Jazeera.
Komentar
Posting Komentar