Branding, Pasar Premium, dan Jalan Naik Kelas Usaha FORMARGA
Pertemuan FORMARGA pada 1 Juli 2026 di Kedai Makmoer, Banyuwangi, kembali menjadi ruang saling berbagi insight usaha, membaca masalah anggota, sekaligus membangun arah kolaborasi. Salah satu pernyataan penting disampaikan oleh Atmojo, pemilik Brand Empu Atmojo dan Family Fighting Class, yang menegaskan bahwa usaha anggota FORMARGA tidak boleh terus-menerus berjalan dengan pola jualan biasa.
Menurut Atmojo, setiap usaha harus mulai membangun branding. Produk tidak cukup hanya ada, tidak cukup hanya dijual, dan tidak cukup hanya bersaing dengan harga murah. Produk harus memiliki identitas, nilai, cerita, kemasan, karakter, dan kepercayaan. Di titik inilah branding menjadi jalan naik kelas.
Pernyataan tersebut, menurut saya, sangat relevan. Saya, Muhammad Naufal Taftazani, S.H., selaku Ketua Forum Baitulmaal Keluarga atau FORMARGA, melihat bahwa banyak pelaku usaha kecil sebenarnya memiliki produk bagus, tetapi diduga tidak berani membesarkan brand-nya sendiri. Akibatnya, produk hanya diposisikan sebagai barang murah, bukan sebagai barang bernilai.
Padahal pasar tidak hanya berisi pembeli yang mencari harga paling rendah. Ada pasar yang mencari kualitas, keaslian, pengalaman, cerita, dan kepercayaan. Inilah yang disebut sebagai pasar premium. Barang premium bukan sekadar barang mahal, tetapi barang yang punya alasan kuat mengapa ia layak dihargai lebih tinggi.
WIPO dalam pembahasan mengenai merek untuk UMKM menegaskan bahwa merek dapat membangun citra dan reputasi, menciptakan hubungan kepercayaan, membentuk pelanggan loyal, dan meningkatkan goodwill usaha. Artinya, brand bukan hiasan. Brand adalah aset. Brand adalah pembeda. Brand adalah jembatan antara kualitas produk dan kepercayaan pasar.
Dalam konteks FORMARGA, ini penting. Jika anggota hanya menjual produk sebagai komoditas biasa, maka yang terjadi adalah perang harga. Siapa paling murah, dia yang dilirik. Tetapi pola ini rawan melemahkan pelaku usaha sendiri. Margin kecil, tenaga besar, risiko tinggi, dan ketika ada pesaing yang lebih murah, usaha langsung tertekan.
Sebaliknya, apabila produk dibangun dengan brand yang kuat, maka produk memiliki daya ingat. Orang tidak hanya membeli barangnya, tetapi membeli kepercayaannya, kisahnya, kemasannya, identitasnya, dan relasi emosionalnya. Harvard Business School Online juga menjelaskan bahwa brand equity yang kuat dapat mendorong pertumbuhan, profitabilitas, stabilitas, dan membuat konsumen lebih bersedia membayar harga lebih tinggi.
1. Branding Bukan Sekadar Logo, Tetapi Identitas Usaha
Kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap branding hanya soal logo, warna, atau desain kemasan. Padahal branding lebih dalam daripada itu. Branding adalah cara sebuah usaha menjawab pertanyaan: siapa kita, apa nilai kita, mengapa produk kita layak dipercaya, dan mengapa konsumen harus memilih kita dibanding produk lain.
Atmojo benar ketika menekankan bahwa produk anggota FORMARGA perlu memiliki identitas. Empu Atmojo, misalnya, tidak sekadar menjual pisau atau karya pandai besi. Ada nilai keterampilan, tradisi, ketekunan, karakter, dan cerita di balik produknya. Family Fighting Class juga tidak sekadar menawarkan latihan fisik, tetapi membangun disiplin, keberanian, dan pembentukan karakter keluarga.
Pola seperti ini perlu ditularkan ke usaha anggota lain. Kopi, bakery, makanan, jasa, produk kerajinan, pelatihan, hingga usaha keluarga harus mulai diberi wajah, nama, standar, cerita, dan positioning.
2. Pasar Premium Harus Dibidik dengan Kualitas, Kemasan, Cerita, dan Kepercayaan
Pasar premium tidak bisa dimasuki hanya dengan menaikkan harga. Ini perlu digarisbawahi. Menaikkan harga tanpa menaikkan nilai hanya akan membuat konsumen ragu. Tetapi menaikkan kualitas, memperbaiki kemasan, membangun cerita, menjaga konsistensi, dan merawat kepercayaan dapat membuat harga yang lebih baik menjadi masuk akal.
Harvard Business Review dalam pembahasan strategi harga bertingkat menjelaskan bahwa pelaku usaha sering merugikan profitnya sendiri karena terlalu bergantung pada diskon untuk menarik pembeli sensitif harga, sementara gagal memberi alasan kuat bagi konsumen kelas atas untuk membayar lebih.
Maka, anggota FORMARGA harus mulai berani membuat kelas produk. Ada produk reguler, ada produk khusus, ada produk premium. Untuk kopi, misalnya, bukan hanya menjual bubuk kopi, tetapi menjual asal-usul biji, proses roasting, profil rasa, kemasan, cerita petani, dan standar kualitas. Untuk bakery, bukan hanya menjual roti, tetapi menjual rasa, kebersihan, konsistensi, pelayanan, dan pengalaman.
3. Brand Kuat Membuat Usaha Lebih Tahan Krisis
Atmojo juga menegaskan bahwa usaha dengan produk premium, pasar premium, dan brand kuat akan lebih tahan menghadapi krisis. Pernyataan ini penting karena banyak usaha kecil tumbang bukan karena produknya buruk, tetapi karena tidak punya diferensiasi.
Ketika pasar turun, daya beli melemah, atau pesaing makin banyak, usaha yang hanya mengandalkan harga murah akan paling cepat tertekan. Tetapi usaha yang punya pelanggan loyal, punya kualitas yang dipercaya, dan punya cerita kuat akan memiliki bantalan sosial-ekonomi. Konsumen tidak mudah pindah karena hubungan mereka bukan hanya transaksi, tetapi kepercayaan.
OECD juga menempatkan produktivitas, inovasi, akses pasar, dan peningkatan kapasitas sebagai isu penting dalam pengembangan UMKM dan kewirausahaan. Dalam bahasa sederhana, usaha kecil tidak cukup hanya rajin produksi. Ia harus naik kapasitas, memperbaiki cara masuk pasar, dan terus melakukan inovasi.
Karena itu, FORMARGA perlu mendorong anggotanya agar tidak takut membesarkan brand masing-masing. Jangan minder. Jangan terus merasa kecil. Jangan terjebak dalam mental “yang penting laku”. Usaha harus mulai berpikir: bagaimana agar dikenal, dipercaya, dicari, direkomendasikan, dan dihargai lebih layak.
Pertemuan FORMARGA bukan hanya forum kumpul dan ngopi. Ia harus menjadi ruang kurasi gagasan, ruang gotong royong usaha, ruang saling menguatkan, dan ruang membangun kelas ekonomi keluarga. Jika ada anggota yang kuat di produk, anggota lain bisa membantu promosi. Jika ada yang kuat di desain, bisa membantu kemasan. Jika ada yang kuat di jaringan, bisa membantu pasar. Jika ada yang kuat di legal, bisa membantu perlindungan merek, kontrak, dan struktur usaha.
Kesimpulannya, jalan naik kelas bagi usaha anggota FORMARGA adalah branding, kualitas, cerita, kemasan, kolaborasi, dan keberanian masuk ke pasar premium. Produk jangan hanya dijual murah. Produk harus dinaikkan nilainya. Brand harus diperkuat. Pasar harus diperluas. Dan usaha keluarga harus didorong agar tidak hanya bertahan, tetapi menjadi lebih kuat, lebih dipercaya, dan lebih anti krisis.
Komentar
Posting Komentar