Bread & Coffee Corner, Langkah Awal Gerakan Ekonomi Bersama


Banyuwangi, 29 Juli 2026 — Forum Baitulmaal Keluarga atau FORMARGA berhasil menyelenggarakan Bread & Coffee Corner sebagai bagian dari pertemuan rutin anggota pada Rabu, 29 Juli 2026. Kegiatan tersebut menjadi ruang sederhana untuk mempertemukan produk anggota, pengalaman menjalankan usaha, serta gagasan kolaborasi yang dapat dilaksanakan secara bertahap.

Pertemuan dihadiri Muhammad Naufal Taftazani, Mas Leo, Dr. Dul Rohman, Mas Aris, Mas Atmojo, Ubay, dan Mas Sarwo. Para peserta berasal dari latar usaha dan profesi yang beragam, mulai dari kopi, bakery, makanan ringan, kerajinan, layanan profesional, hingga komunitas kesehatan.

Keberhasilan Bread & Coffee Corner menjadi salah satu pembahasan penting. Kegiatan ini tidak hanya menyediakan roti dan kopi, tetapi juga membuka ruang bagi anggota untuk memperkenalkan produk, mendengar tanggapan, serta membangun kebiasaan saling mendukung usaha di dalam forum.

Kegiatan serupa direncanakan kembali sekitar dua minggu setelah pertemuan. Rencana tersebut diharapkan dapat menjaga ritme kegiatan FORMARGA agar tidak berhenti sebagai forum diskusi, tetapi berkembang menjadi ruang praktik dan kolaborasi ekonomi.

Potensi Kopi Secang–Mangir Memerlukan Pengolahan Mandiri

Pertemuan juga membahas potensi kopi di wilayah Secang dan Mangir. Berdasarkan keterangan yang disampaikan dalam forum, tanaman kopi dapat dijumpai di banyak pekarangan dan kebun milik warga.

Namun, sebagian hasil kopi masih dijual melalui sistem ijon atau langsung kepada tengkulak. Kondisi tersebut membuat nilai tambah dari proses pengolahan kopi belum sepenuhnya dinikmati masyarakat setempat.

Mas Aris, pemilik Cafe Semar, merek Debog Osing, dan Semar Crafthouse, menyampaikan keinginan agar kopi dari kawasan tersebut dapat mulai diproses secara mandiri. Salah satu kebutuhan yang dibicarakan ialah keberadaan mesin penggiling kopi.

Gagasan tersebut dapat dikembangkan melalui pemetaan hasil panen, kualitas biji, proses pascapanen, kebutuhan alat, kemasan, serta jalur pemasaran. Pengembangan tidak harus langsung dilakukan dalam skala besar. Tahap awal dapat dimulai dengan pengolahan terbatas dan pengujian produk.

Wisata Hutan Jati dan Produk Lokal Bisa Dikembangkan Bersama

Selain kopi, forum membahas peluang kegiatan trekking melintasi kawasan hutan jati dengan titik awal dari Cafe Semar. Gagasan ini sebelumnya juga memperoleh perhatian dari komunitas dokter yang tertarik dengan aktivitas luar ruang.

Rute trekking dapat dipadukan dengan pengalaman kuliner lokal, seperti nasi jagung dan ikan asin. Dengan pengelolaan yang tepat, kegiatan tersebut dapat membuka peluang bagi usaha makanan, minuman, pemandu lokal, produk kerajinan, dan pelaku usaha lain di sekitar Secang–Mangir.

Konsep budidaya tanaman anthurium turut dibicarakan sebagai kemungkinan usaha yang dapat dikembangkan. Gagasan itu masih memerlukan pembahasan mengenai lokasi, jenis tanaman, perawatan, pembagian tugas, serta calon pasar.

Pertemuan FORMARGA dengan demikian tidak hanya membahas satu produk. Forum mulai melihat bagaimana kopi, kuliner, tanaman, kerajinan, dan kegiatan wisata dapat dihubungkan dalam satu ekosistem usaha lokal.

Pemasaran Digital Harus Dihitung Secara Realistis

Pada bidang pemasaran, anggota membahas aktivitas media sosial Bin Ubay yang terus berjalan. Kehadiran dan konsistensi di media sosial dinilai penting untuk membangun pengenalan produk sebelum mendorong penjualan.

Forum juga membicarakan transaksi melalui Shopee dan TikTok. Berdasarkan pengalaman yang disampaikan anggota, sejumlah pesanan dapat batal ketika calon pembeli memperhitungkan biaya layanan atau komponen biaya tambahan lainnya.

Persoalan tersebut dipandang sebagai kendala sekaligus peluang evaluasi. Pelaku usaha perlu menghitung harga produk, margin, biaya platform, kemasan, ongkos pengiriman, promosi, dan keuntungan reseller secara lebih terukur.

Struktur harga retail dan reseller Kopi Makmoer turut ditinjau kembali dalam pertemuan. Pembahasan ini diperlukan agar produk tetap terjangkau bagi konsumen, tetapi juga memberikan ruang keuntungan yang layak bagi produsen dan jaringan penjual.

Pertemuan turut memuat refleksi mengenai harapan, keresahan, dan kemampuan bertahan dalam menjalankan kehidupan maupun usaha. Mas Atmojo mengajak anggota melihat bahwa persoalan sering memiliki beberapa lapisan sehingga tidak selalu dapat diselesaikan hanya dari permukaan.

Saya, Muhammad Naufal Taftazani, S.H., selaku Ketua Forum Baitulmaal Keluarga, memandang tantangan utama FORMARGA bukan kekurangan ide. Tantangan yang lebih nyata adalah menjaga komunikasi, ketekunan, dan kegiatan rutin yang benar-benar memberi manfaat.

Bread & Coffee Corner menjadi langkah awal yang baik karena anggota tidak hanya berbicara tentang kolaborasi, tetapi mulai menjalankannya. Gerakan ekonomi bersama tidak harus dimulai dengan acara besar. Ia dapat tumbuh dari kebiasaan saling membeli, memperkenalkan produk, memberikan masukan, membuka jaringan, dan membantu kebutuhan usaha anggota secara bertahap.

Keberhasilan kegiatan pertama perlu disyukuri, tetapi tidak perlu dibebani harapan yang berlebihan. Tugas berikutnya adalah menjaga konsistensi, mengevaluasi kekurangan, dan memastikan setiap kegiatan berikutnya memberi manfaat yang lebih luas.

Referensi

  1. Notulensi internal FORMARGA — Pertemuan FORMARGA — 29 Juli 2026 — dokumentasi internal.
  2. Dokumentasi internal FORMARGA — Pelaksanaan Bread & Coffee Corner — 29 Juli 2026 — arsip internal.
  3. Catatan pembahasan harga, pemasaran, dan pengembangan usaha anggota FORMARGA — 29 Juli 2026 — dokumentasi internal.

Muhammad Naufal Taftazani, S.H. | Naufal Lawyer | Pengacara Banyuwangi | Forum Baitulmaal Keluarga

Dukung kami terus menyuarakan keadilan dan advokasi hukum untuk rakyat.

Klik dukungan:

Komentar