Diplomasi Teheran: Ketika Bacaan Al-Qur’an Menjadi Bahasa Politik di Pemakaman Khamenei

 

Tempat: Imam Khomeini Grand Mosalla, Teheran, Iran.

Waktu: Jumat–Minggu, 3–5 Juli 2026, dalam rangkaian pemakaman kenegaraan Ayatollah Ali Khamenei.

Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Teheran tidak hanya menjadi peristiwa duka kenegaraan Iran. Ia juga berubah menjadi panggung diplomasi simbolik. Di tengah kehadiran para delegasi asing, pembacaan ayat Al-Qur’an yang berbeda untuk sejumlah delegasi menjadi sorotan publik internasional. Beberapa laporan menyebut delegasi Pakistan, India, dan Arab Saudi disambut dengan lantunan ayat yang berbeda ketika memasuki ruang penghormatan terakhir. Namun, perlu ditegaskan, sampai saat ini belum ada penjelasan resmi dari otoritas Iran bahwa ayat-ayat tersebut memang dipilih sebagai pesan diplomatik khusus.

Yang paling banyak dibicarakan adalah kehadiran delegasi Arab Saudi yang dipimpin Wakil Menteri Luar Negeri Waleed Al-Khuraiji. Saat delegasi Saudi memberikan penghormatan, dilaporkan dibacakan QS Ali Imran ayat 13, ayat yang merujuk pada pertemuan dua pasukan dalam Perang Badar. DetikNews mencatat momen ini menjadi perbincangan karena konteks hubungan Iran–Saudi yang masih penuh lapisan sejarah, ketegangan kawasan, dan rekonsiliasi diplomatik.

1. Agama, Simbol, dan Bahasa Kekuasaan

Dalam politik Timur Tengah, simbol tidak pernah netral. Ayat, tempat, susunan tamu, siapa yang hadir, siapa yang tidak hadir, bahkan urutan penghormatan dapat menjadi bahasa diplomasi. Ketika Al-Qur’an dibacakan di hadapan delegasi asing, ia tetap harus dihormati sebagai kitab suci. Tetapi dalam ruang kenegaraan, publik wajar membaca bahwa ritual juga dapat membawa pesan politik.

Saya Muhammad Naufal Taftazani, S.H., melihat peristiwa ini sebagai pelajaran penting: diplomasi tidak selalu berbicara lewat nota resmi, konferensi pers, atau perjanjian tertulis. Kadang ia berbicara lewat simbol, gestur, dan panggung keagamaan. Justru di sinilah publik harus kritis. Jangan semua simbol langsung divonis sebagai provokasi, tetapi jangan pula terlalu polos seolah negara tidak pernah memakai simbol untuk membangun narasi kekuasaan.

2. Teheran Mengirim Sinyal: Duka atau Deklarasi Sikap?

Pemakaman ini berlangsung dalam situasi pascaperang yang sangat sensitif. Reuters melaporkan puluhan ribu warga Iran memadati kompleks Imam Khomeini Grand Mosalla untuk melihat peti jenazah Khamenei dan beberapa anggota keluarganya, dengan suasana duka, simbol negara, dan slogan politik yang kuat. Dalam konteks seperti itu, pemakaman bukan sekadar prosesi keagamaan, tetapi juga momen konsolidasi nasional dan diplomasi eksternal.

Bila benar ayat-ayat tersebut dipilih secara sadar untuk delegasi tertentu, maka Teheran sedang melakukan diplomasi yang sangat khas: diplomasi religius, diplomasi martabat, dan diplomasi peringatan. Kepada kawan, ayat dapat dibaca sebagai penghormatan. Kepada pihak yang dianggap ragu, ayat dapat dibaca sebagai teguran halus. Kepada rival, ayat dapat dibaca sebagai pesan bahwa Iran ingin tetap tampil sebagai kekuatan yang tidak tunduk pada tekanan militer dan aliansi besar.

Tetapi sekali lagi, secara hukum informasi dan etika publikasi, kita harus memakai bahasa aman: “diduga”, “diinterpretasikan”, “dibaca oleh pengamat”, atau “menjadi perbincangan”. Sebab tanpa pernyataan resmi, menyimpulkan motif negara secara mutlak dapat berubah menjadi klaim berlebihan.

3. Pelajaran untuk Dunia Islam dan Indonesia

Sebagai advokat dan aktivis, saya Muhammad Naufal Taftazani, S.H., juga selaku anggota Majelis Silaturahim Aktivis Islam Banyuwangi, melihat peristiwa ini sebagai pengingat bahwa umat Islam harus cerdas membaca politik global. Al-Qur’an tidak boleh dipersempit menjadi alat propaganda kekuasaan, tetapi umat Islam juga tidak boleh buta bahwa simbol agama sering hadir dalam ruang diplomasi internasional.

Indonesia perlu belajar menjaga keseimbangan. Kita menghormati agama, tetapi juga harus kritis terhadap politisasi agama. Kita mendukung perdamaian, tetapi tidak boleh naif terhadap realitas geopolitik. Kita menolak agresi dan pembunuhan politik, tetapi tetap harus menilai semua negara dengan standar keadilan yang sama.

Diplomasi Teheran menunjukkan bahwa dunia sedang bergerak ke fase baru: perang tidak hanya terjadi di medan senjata, tetapi juga di medan simbol, narasi, dan legitimasi moral. Di situlah masyarakat sipil, akademisi, advokat, aktivis, dan media harus hadir sebagai penjaga nalar publik.

Referensi: Reuters, Al Jazeera, Muslim Network TV, DetikNews, Associated Press.

Catatan Akhir Penulis:
Muhammad Naufal Taftazani, S.H. | NaufalLawyer | Pengacara Banyuwangi | Majelis Silaturahim Aktivis Islam Banyuwangi

Mari Berjuang bersama NaufalLawyer. Bantu kami terus menyuarakan keadilan dan advokasi hukum untuk rakyat,

Komentar